Saya membaca kembali lembar demi lembar jurnal yang sudah saya tulis tentang Zahid dan Hanna. WOW! sampai 18 halaman ternyata di Word, dan hampir 6,000 kata. Ini setara dengan tugas paper kuliah jaman dulu 😊 Saya juga membaca kembali jurnal yang saya tulis tahun lalu tentang Zahid. Saya merasakan ada perbedaaan dengan jurnalling sebelumnya. Kini, saya merasa lebih terbuka, apa adanya, dan lebih leluasa meluangkan perasaan saya.
Ketika membaca, saya senyum-senyum sendiri, teringat kembali tingkah laku Zahid dan Hanna, lucu dan menggemaskan sekali mereka! Saya bisa merasakan kembali keseruan saat-saat bersama mereka. Terharu, betapa mereka sudah tumbuh sampai usia sekarang, cepat sekali waktu berlari!
Di sisi lain, saya juga sedih. Banyak hal yang perlu saya perbaiki sebagai seorang Ibu. Saya harus belajar untuk lebih sabar, lebih disiplin dan lebih konsisten meluangkan waktu bermain bersama Zahid dan Hanna, menstimulasi mereka, mendampingi mereka belajar dan mengeksplorasi dunia mereka. Betul bahwa saya memiliki keterbatasan karena harus bekerja penuh waktu, tetapi seharusnya ini tidak menjadi hambatan, dan bisa di manage lebih baik.
Saya paham sekarang mengapa ini disebut program menjadi orang tua yang bertumbuh. Proses bertumbuh dan belajar menjadi orang tua yang lebih baik takes a lifetime.
Sebagai anak bungsu, Hanna justru relatif lebih cepat mandiri. Hanna suka meniru kakaknya, Zahid. Melihat kakaknya makan sendiri, Hanna ikut makan sendiri. Dalam beberapa hal, bahkan Hanna lebih mandiri dibanding kakaknya.
Dalam dua hari ini, seperti biasa setelah bangun tidur Hanna sikat gigi sendiri. Saya ambilkan odol dan sikat giginya, karena masih terlalu tinggi tempatnya. Sebelum mandi, Hanna memilih dan mengambil pakaiannya sendiri. Setelah mandi, Hanna pun memakai sendiri baju dan celananya. Baju kotornya ia masukkan ke dalam tempat pakaian kontor.
Dalam hal makan, Hanna sebetulnya sudah bisa makan sendiri, jika menunya mudah (tidak perlu dipotong2). Terkadang saya suka potong2 terlebih dahulu lauknya untuk memudahkan Hanna. Sebelum makan, Hanna sudah bisa cuci tangan sendiri. Dia naik bangku kecil, saya bantu nyalakan kerannya, dan dia akan tuang sendiri sabun kemudian mencuci tangannya sendiri. Sebelum makan, Hanna minum suplemen. Dia akan ambil sendiri botol suplemennya, kemudian dia buka kapsulnya dan dia tuangkan ke gelas. Saya akan bantu ambilkan air, kemudian Hanna sendiri yang akan mengaduk2 dan meminumnya. Hanna juga suka minum susu, dia biasa ambil sendiri gelas, ambil susu di kulkas lalu menuangkan susu ke gelas. Jika minta susu kurma, dia akan minta bantuan saya untuk mencampurkan susunya dengan sari kurma.
Hanna memang suka mencoba melakukan hal-hal sendiri. Dia bangga pada dirinya jika telah berhasil melakukan sesuatu sendiri dan langsung akan menceritakannya ke saya penuh gairah.
Rencana untuk Zahid
Ketika ditanya tentang rencana Zahid 2, 4, sampai 6 tahun kedepan, jujur saya agak bingung. Merencanakan yang terkait dengan anak-anak tentu bukan keputusan saya sendiri, melainkan harus didiskusikan dengan suami dan juga Zahid tentunya!
Saya berprinsip tidak ingin memaksakan kehendak pada anak. Anak adalah individu otonom, yang perlu diperlakukan sebagai subyek, bukan obyek, serta harus dimintakan dan dihargai pendapatnya. Rencana yang paling dekat adalah Zahid masuk SD. Mendaftar MOTyB ini adalah salah satu ikhtiar kami untuk menyekolahkan Zahid ke SD. Saya dan suami juga telah berencana melakukan test IQ dan konsultasi ke psikolog untuk mengetahui potensi Zahid.
Sejujurnya saya agak jiper dengan Ibu-Ibu zaman now yang sangat gercep memberikan les ini dan itu bagi anak-anaknya. Saya sendiri tidak ingin membebani Zahid. Saya tidak ingin dia kehilangan masa-masa bermain. Saya dan suami berencana untuk mencarikan tempat Zahid belajar agama (tidak sekedar mengaji). Selama ini, kami berusaha mengajarkannya sendiri dirumah. How to nya masih harus kami cari agar tetap menyenangkan bagi Zahid.
Rencana kami 2,4,6 tahun kedepan yang paling penting adalah membina, mendampingi dan membangun karakter Zahid, agar Zahid tumbuh menjadi pribadi yang shaleh, tangguh, dan bertanggung jawab. Ini adalah fondasi yang mesti dibangun. Sama seperti pohon, agar menjulang tinggi keatas, akarnya harus kuat, sehingga sekencang apapun angin bertiup, ia tidak akan tumbang.
Untuk melatih kemampuan literasi Zahid, upaya yang saya lakukan adalah mengajak Zahid membaca buku. Biasanya saya yang membacakan buku, Zahid yang mendengarkan. Zahid sering bertanya jika mendengar kata baru yang belum ia pahami artinya. Zahid juga anak yang kritis, ia akan terus bertanya jika belum paham. Setelah membaca buku, saya sering bertanya, ‘jadi tadi ceritanya tentang apa?’ Memastikan bahwa ia mengerti apa yang ia dengar (kemampuan reseptif), juga untuk melatih kemampuan Zahid menceritakan kembali dengan Bahasa ia sendiri (kemampuan ekspresif).
Hari ini saya membacakan buku ‘Dunia Tanpa Roda’ yang dipinjam di perpustakaan sekolah. Disini, Zahid belajar bahwa dunia saat ini dikelilingi dengan berbagai mesin (yang didalamnya ada roda). Zahid juga diajak berimajinasi bagaimana dunia ini jika tidak ada roda dan tidak ada mesin sama sekali. Diakhir saya tanyakan kepada Zahid, apakah Zahid memilih dunia dengan roda atau tanpa roda. Zahid menjawab dengan pasti, “ya dengan roda dong!” Saya tanya kenapa. Zahid menjawab, “karena semua-semua kan dibuat dari mesin, nanti gimana dong kalau gak ada mesin. Zahid kan suka motor, suka main lego,” jawabnya. Lalu saya tanyakan kembali, coba Zahid menurut Zahid apakah rumah dibuat dengan mesin(roda)? Dia jawab lagi, “ya dong mi, kaca kan dibuat di pabrik”, sambil menunjuk keramik, “ini juga dibuat di pabrik, jadi pasti pakai mesin.”
Selain saya yang membacakan buku, saya juga sering mengajarkan Zahid membaca. Zahid sudah bisa membaca buku dengan kata-kata sederhana (belum begitu lancar dan masih pelan-pelan). Beberapa huruf masih tertukar (b dengan d). Karena masih suka kesulitan, Zahid sering menghindar jika saya ajak untuk latihan membaca. Zahid lebih enjoy dibacakan buku.
Apa yang perlu dikembangkan? Pertama adalah kemahiran membaca, semoga nanti ketika masuk SD, Zahid akan lebih lancar membaca. Yang kedua adalah kemampuan Bahasa ekspresif Zahid semakin berkembang. Zahid masih mengalami kesulitan ketika ingin menceritakan sesuatu yang kompleks. Semoga kedepannya kemampuan ini akan berkembang seiring dengan bertambahnya kosa kata yang ia kuasai, dan juga lebih percaya diri untuk menceritakan sesuatu di depan orang lain (selain keluarga inti).
Surat untuk Hanna
Hanna, kesayangan Mimi..
Mimi begitu bersyukur kepada Allah SWT yang telah menghadirkan seorang malaikat kecil ke dalam kehidupan Mimi, Abi, kakak Haura dan Zahid, melengkapi kebahagiaan keluarga kita. Kehadiran Hanna adalah doa Mimi yang dikabulkan oleh Allah. Masih lekat dalam ingatan Mimi saat pertama kali melihat wajah Hanna yang begitu cantik dan mungil, saat pertama kali mendekap Hanna dalam pelukan Mimi pada hari Hanna dilahirkan ke dunia. Kasih sayang mimi kepada Hanna tak akan pernah pudar ditelan zaman.
Tak terasa kini tiba saatnya Hanna memasuki satu fase dalam kehidupan Hanna, mulai sekolah, masuk TK. Hanna akan bertemu guru-guru dan teman-teman baru di sekolah! Hanna akan belajar banyak sekali hal-hal baru. Ini akan menjadi petualangan seru! Apakah Hanna masih ingat, betapa antusiasnya Hanna karena mau mulai sekolah dan hampir setiap hari bertanya, “Mimi, kapan Hanna mulai sekolah?” Sebentar lagi nak. Selamat menuntut ilmu anakku, jangan pernah putus semangat mencari ilmu ya!
Hanna, penyejuk mata mimi, anak mimi yang paling manja, yang paling lembut hatinya, yang pemberani dan berjiwa petualang, tumbuhlah menjadi anak yang bahagia. Kejarlah mimpi-mimpimu setinggi langit, kepakkan sayap-sayapmu. Jika suat saat nanti Hanna merasa ragu untuk melangkah, merasa sedih atau kesulitan ketika menghadapi cobaan dan tantangan hidup, ingatlah bahwa Mimi akan selalu ada untuk Hanna, mendukung Hanna, menguatkan Hanna, dan menemani Hanna melalui masa-masa sulit. Jangan takut membuat kesalahan, jangan takut untuk jatuh. It’s okay to fall, you can stand up again, stronger and better! Sejauh manapun kaki Hanna melangkah, Mimi akan selalu menyertai Hanna dengan doa-doa Mimi. Semoga Allah selalu melindungi Hanna, menjaga Hanna di jalan yang lurus, menjadikan Hanna pribadi yang shalehah dan berakhlak baik. I love you Hanna, always have and always will.
Mimi will always be there for you Hanna, right behind you.Holding you close in my arms and heart, foreverHolding you close in my arms and heart, forever
Di era digital ini, penggunaan gawai tidak dapat terhindarkan. Saya membatasi penggunaan gawai oleh Zahid. Setiap bermain gawai saya pasang alarm selama 10 menit. Biasanya akan diperpanjang 1x. Dalam sehari, Zahid paling sering tiga kali bermain gawai. Self-regulation Zahid sudah mulai berkembang dalam hal ini. Zahid biasanya meminta izin saya terlebih dahulu, meskipun sesekali masih suka mengambil hp saya diam-diam. Jika ketauan , saya akan menegur Zahid, dan Zahid akan langsung minta maaf. Saya suka mengawasi apa yang dilihat Zahid ketika main gawai, namun tidak selalu. Biasanya dia akan membuka you tube mencari inspirasi untuk membuat kreasi lego, menonton kartun, dan bermain game (balapan mobil).
Sebelum gelombang omicron melanda, saya suka mengajak Zahid jalan-jalan sore, atau bersepeda di setu babakan untuk aktivitas fisiknya. Dirumah, Zahid biasanya menghabiskan banyak waktu mengotak ngatik lego. Zahid sangat fokus jika sedang berkarya membuat sesuatu dari lego. Selain itu, Zahid juga sering menggambar. Dengan kesibukan-kesibukan ini, Zahid jadi teralihkan dari bermain gawai. Sabtu atau ahad, kami juga sering mengajak jalan-jalan Zahid untuk aktivitas outdoor, (bersepeda di Gelora Bung Karno), bermain ke alam terbuka, dsb. Sejak awal tahun, dan omicron mulai melanda, aktivitas di luar rumah, kami kurangi dan sekarang kami stop.
Yang perlu diperbaiki? Memperbanyak aktivitas, agar Zahid tidak bosan. Zahid biasanya akan minta main hp kalau bosan dan tidak ada kegiatan. Akhirnya lari ke hp. Ketika saya melarang, dia akan protes, “Zahid bosan mi, bosaaan! Terus Zahid ngapain dong.” Yang kedua, saya harus lebih intensif mendampingi dan mengawasi saat Zahid menggunakan gawai. Internet menyeramkan sekali, bahkan iklan-iklan di You Tube saja tidak pantas dilihat oleh anak-anak.
Sebetulnya keluarga kami tidak pernah merencanakan sesuatu saat Liburan Idul Fitri. Idul Fitri bukan momentum liburan, tapi momentum terhectic bagi keluarga kami. Ya, karena Asisten Rumah Tangga kami akan pulang kampung selama 1-2 bulan. Dengan tidak adanya ART, saya dan suami sangat kewalahan. Apalagi anak kami yang pertama adalah penyandang austisme yang belum mandiri. Saya harus tetap bekerja kantor (biasanya mengambil cuti selama 1-2 minggu), sambil mengurus keluarga, dengan tiga anak-anak yang super heboh, dan anak pertama yang autis, tanpa bantuan ART. Sejujurnya, liburan Idul Fitri adalah saat paling stressful bagi saya dan suami.
Bagaimana menyikapi kondisi pandemi? Kebetulan saya bekerja di Badan Kesehatan Dunia, sehingga paham betul dengan pandemi. Kami sekeluarga taat menegakkan protokol kesehatan, dan mengurangi aktivitas yang berinteraksi dengan orang lain. Kami menghindari menghadiri acara-acara keluarga, arisan atau nikahan, dsb. Saat Idul Fitri pun, kami berkunjung sebentar ke orang tua kami, tidak lama-lama dan tetap menggunakan masker dan menjaga jarak. Akhir tahun kemarin, saat pandemi terkendali, sebelum gelombang Omicron menyerang, kami sempat liburan keluar kota. Tentunya destinasi yang kami kunjungi adalah outdoor. Alhamdulillah sejak pandemi awal tahun 2020, saya dan keluarga belum pernah terinfeksi Covid-19 (Semoga Allah terus melindungi kami).
Jujur, saya tidak melakukan persiapan apa-apa untuk assessment Zahid masuk SD, dan Hanna masuk TK. Hal ini karena hari asesmen mereka, bertepatan dengan acara besar berskala nasional yang harus saya fasilitasi. Ketika menerima surat pemberitahuan dari sekolah, saya bertanya kepada pihak sekolah apakah jadwal asesmen Zahid dan Hanna dapat diganti, karena saya sangat ingin mendampingi anak-anak di momen penting ini. Namun pihak sekolah mengatakan sebisa mungkin sesuai jadwal, agar dapat berbarengan dengan teman-temannya. Jika di reschedule, Zahid dan Hanna akan sendirian. Dengan berat hari, saya dan suami putuskan Zahid dan Hanna akan tetap assessment di hari sesuai jadwalnya.
Malam harinya, saya hanya bisa mengkondisikan Zahid dan Hanna, bahwa saya tidak bisa menemani mereka pergi kesekolah esok hari. Perasaan saya sedih sekali dan sangat bersalah. Ketika hari H, sebelum mereka berangkat ke sekolah, saya menyempatkan bertemu mereka, saya siapkan pakaiannya, mencium keningnya, memeluknya dan memberikannya semangat. Hanna bertanya, berharap saya bisa ikut menemaninya, “mimii, mimi ga ikut Hanna ke sekolah?” dengan matanya yang sendu. Ketika pulang sekolah, Zahid dan Hanna langsung lari ke ruang saya bekerja, menghampiri saya yang masih berkutat di depan laptop memandu berjalannya acara. Hanna masih memakai topi buatannya dan name tagnya, dengan mata berbinar-binar menunjukkan kepada saya hasil karyanya.
Mengobrol dengan Hanna
Obrolan saya dengan Hanna hari ini seputar pengalamannya di sekolah ketika assessment. ‘Mimiii, tadi Hanna ketemu kak Nidia!’ Kak Nidia adalah guru Zahid di kelas Antariksa Putih Biru, sehingga sering melihat kak Nidia saat Zahid sedang zoom meeting. Saya tanyakan perasaaan Hanna. Hanna menjawab, “Hanna senang sekali Mimiii! Tapi tadi Hanna malu-malu sedikit.” Lalu saya menanyakan apa saja kegiatan yang dilakukan di sekolah. “Hanna tadi nyanyi, main” katanya seru. Hanna pun dengan semangat menunjukkan foto-fotonya saat di sekolah yang diambil oleh Abinya. “Mimi, liat nih mi, mata Hanna begini karena Hanna malu” menunjukkan foto di depan spanduk sekolah. Saya membalas, “kenapa Hanna kok malu, Hanna kan anak pemberani” sahut saya. Hanna lanjut menunjukkan video saat dirinya masuk ke sekolah dan mencuci tangan.
Hanna sebetulnya anak yang suka bicara. Hanya saja, Hanna memiliki kendala dan kesulitan dalam berbicara, terutama pelafalan beberapa huruf (k, g, s). Saya dan suami perhatikan Hanna belum lancar berbicara jika dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Hanna aware bahwa dirinya belum lancar berbicara. Jika saya tidak paham atau salah memahami apa yang ia maksud, Hanna akan frustasi. “bukan, bukan itu!” kemudian Hanna akan berusaha berulang-ulang mengucapkannya. Jika akhirnya saya mengerti, Hanna bahagia sekali. Jika tidak paham juga, Hanna akan menangis dan marah. Hanna sering bilang, “Hanna ga bisa ngomong mimi..” selalu saya kuatkan, “Hanna bisa kok, nanti lama-lama juga akan lancar.” Setiap Hanna berbicara atau mengobrol, saya harus memberikan atensi ekstra untuk bisa menangkap maksudnya. Hanna tidak suka kalau sedang berbicara, saya sambi dengan bekerja di dapur, di laptop atau mengerjakan hal yang lain. Harus kontak mata, merespon dan memberikan assurance bahwa saya mengerti ucapannya.
Saya dan suami berencana untuk memberikan terapi wicara untuk Hanna. Kami khawatir sekali jika nanti sudah masuk sekolah, Hanna bisa sangat frustasi saat teman-teman atau gurunya tidak dapat mengerti apa yang Hanna ucapkan. Kami khawatir, ini akan menggangu psikososialnya dan membuatnya menjadi tidak percaya diri. Kami meneguhkan hati kami, akan terus mendampingi Hanna, berjuang bersamanya dan menguatkannya.
Mirip dengan pengalaman jurnalling sebelumnya, perasaan saya membaca kembali jurnal campur aduk. Ada perasaan haru, teringat kembali tingkah laku dan kelucuan anak-anak. Ada perasaan sedih, tak sadar betapa anak-anak ini cepat sekali tumbuh. Rasanya baru kemarin Hanna masih balita dan Zahid mau masuk TK, sekarang tiba-tiba Hanna mau masuk TK dan Zahid mau masuk SD. Ah, cepat sekali waktu berlalu. Juga ada rasa bersalah, merasa saya belum menjadi Ibu yang baik bagi anak-anak ☹ Masih kurang sabar menghadapi anak-anak, kurang telaten mendidik anak, kurang menemani anak-anak bermain, dan masih banyak lagi.
Saya merasakan bahwa menulis jurnal ini memang bermanfaat. Seperti kata kak Endah, jurnaling memberikan kesempatan diri untuk melakukan monolog. Saya bisa jujur pada diri sendiri, mencurahkan perasaan, menyadari kekurangan dan kesalahan saya sebagai orang tua.
Harus saya akui, saya kesulitan menulis jurnal kali ini. Selain karena harus menceritakan tentang dua anak sekaligus, jadwal dan beban kerjaan kantor saya sangat padat sekali minggu ini, menguras waktu dan energi diluar hari-hari biasanya. Stimulasi yang diberikan kepada anak juga kurang maksimal. Sementara kegiatan menulis harus terus berjalan. Masih ada beberapa hari kedepan untuk memperbaiki. Semoga lebih baik!
Hanna
Sore hari ini saya mengajak anak-anak membeli buah di toko buah langganan kami dekat rumah. Stok buah di rumah sudah habis, sehingga anak-anak belum makan buah sejak pagi. ‘Mimi, Hanna mau ikut turun!’ ujar Hanna ketika sampai. Saya bebaskan anak-anak untuk memilih buah kesukaan mereka. Hanna juga sering membantu saya memilih buah-buahan ketika belanja di supermarket atau toko buah.
Meski sudah sore, Hanna tetap semangat. Pilihan pertama Hanna adalah salak, ‘Hanna mau salak Mimi!’ sembari memasukkan salak ke kantong plastik. Setelah itu, saya tawarkan dukuh. ‘Mau mau mi’ kata Hanna dan Zahid kompak. Mereka pun asyik memilih duku yang berukuran besar. Ketika saya tanyakan apakah sudah cukup, mereka membalas, ‘ini masih sedikit!’ Kami membeli salak, dukuh, jeruk, nanas dan pisang. Ya kami sekeluarga memang suka buah-buahan. Dan stok buah dirumah tidak pernah bertahan lama, 1-2 hari juga sudah ludes!
Setelah mencuci tangan, Hanna dan Zahid kemudian masuk mobil, dan mereka langsung makan salak. Ketika sampai rumah, salak yang tersisa tinggal 2 buah saja! (satu mobil ikut makan 😊) Malam hari itu, anak-anak mengambil dukuh dan jeruk. Buah-buahan sering kita jadikan sebagai camilan sehat.
Ya, Hanna memang suka buah-buahan. Buah favoritnya adalah mangga, anggur, dukuh, dan salak. Hanna juga bisa makan buah naga, apel, pir, melon, semangka, jambu air dan jambu batu. Ada satu buah yang Hanna sama sekali tidak bisa makan, alpukat. Sejak bayi, Hanna tidak bisa makan alpukat, dia akan langsung muntah. Sampai sekarang pun, Hanna tetap tidak bisa makan alpukat. Hanna juga tidak suka pepaya, tetapi tidak sampai muntah. Ada beberapa buah-buahan yang Hanna sedikit ribet untuk memakannya, jeruk dan rambutan. Hanna tidak suka jika ada kulit biji rambutan, ataupun serat2 putih di jeruk.
Selain dimakan langsung, saya juga sering membuat jus, salad buah, dan es krim buah. Dalam proses membuatnya, sering melibatkan Hanna untuk membantu saya (sekalian latihan motorik) Hanna sudah pandai memotong buah, dan mahir menuang. Jika saya buru-buru dan mengerjakan sendiri, Hanna akan protes, ‘Mimii, hanna kan pengen bantu mimi’ sambil nangis. Kalau sudah begitu, jadilah mengulang dari awal 😊
Toilet training Hanna terbilang cukup lancar dan paling mudah. Hanna lepas popok sekali pakai usia 1 tahunan. Hal ini karena Hanna sering melihat kakaknya Zahid, BAK dan BAB di toilet. Hanna suka meniru apa saja yang dilakukan Zahid, sehingga ketika melihat kakaknya BAK dan BAB di toilet, Hanna pun ingin melakukan hal yang sama. Sejak usia 1 tahun, Hanna sudah tidak mau pakai pampers. Hanna akan bilang ‘mau pipi’ jika mau BAK, jika mau BAB bilangnya juga sama, ‘mau pipi’ dan saya akan langsung membawanya ke toilet.
Karena Hanna tidak mau pakai pampers, setiap dibawa keluar rumah, saya biasakan Hanna untuk BAK dulu. Jika diperjalanan Hanna mau BAK dan BAB, dia akan bilang. Setiap malam sebelum tidur pun Hanna akan pipis terlebih dahulu. Jarang sekali peristiwa Hanna ngompol, bisa dihitung dengan jari.
Seiring dengan berjalannya waktu, Hanna sudah bisa membedakan ekspresi BAK dan BAB. Hanna akan berkata ‘mau pipis’ dan ‘mau ee.’ Namun Hanna belum bisa membasuh sendiri, masih meminta bantuan saya, abinya, atau pengasuhnya. Hanna anak pemberani, dia berani ke toilet sendiri, tidak minta ditemani. Jika sudah selesai, baru akan memanggil saya.
Saya menempel stiker doa mau masuk toilet di pintu toilet. Anak-anak saya bertanya, ini apa mimi? Saya jelaskan itu adalah stiker doa masuk toilet. Saya juga jelaskan adabnya, membaca doa, masuk dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan. Berhubung Zahid setiap mau masuk toilet akan heboh bertanya, mimi doanya gimana? kaki mana duluan yang masuk mi? Hanna juga ikut-ikutan. Begitu rutinitasnya setiap masuk toilet. Dan ketika keluar, juga bertanya, kaki yang mana miii?
Zahid
Saya bercita-cita ingin menyekolahkan anak-anak saya ke Tetum Bunaya sejak anak pertama. Kala itu membaca blog seorang Bunda di internet yang menceritakan kesan positif terhadap sekolah Tetum Bunaya. Alhamdulillah akhirnya tercapai di anak saya kedua, Zahid. Zahid baru bergabung saat memasuki TK B. Waktu itu saya ragu untuk menyekolahkan Zahid ke TK A karena pandemi, dan belajarnya pasti online. Dan kami putuskan untuk belajar di rumah saja.
Bagaimana kesan saya terhadap sekolah Tetum?
Tak terasa Zahid sudah melewati 1 semester sekolah di Tetum, masuk semester 2 dan sebentar lagi mau masuk SD. Hal-hal yang saya sukai dari Tetum Bunaya. Pertama, sekolah ini mengedepankan pembangunan karakter anak, tidak hanya kemampuan akademis. Kedua, memberikan berbagai stimulus sensori dalam proses pembelajaran yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan taktil (sentuh), sehingga proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Ketiga, tidak memaksakan anak dengan target-target tertentu, tetapi disesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhan anak. Keempat, Tetum Bunaya turut ‘mendampingi’ orang tua untuk bertumbuh menjadi orang tua yang lebih baik, saya suka sekali. Kelima, suasanya sekolah yang ‘homey.’ Kedepannya mungkin yang perlu diperbaiki adalah gedung sekolah yang sudah terlihat tua dan membutuhkan peremajaan.
Harapan saya saat nanti Zahid sekolah di SD, Zahid dapat tumbuh menjadi anak yang berkarakter, mandiri, dan tetap mampu bersaing secara akademis. Saya ingin Zahid bahagia menjalani proses belajar dan tidak terbebani dengan kurikulum sekolah yang terlalu menekan anak.
Zahid, saat assesment masuk TK BZahid, pertama kali sekolah tatap muka
Menu makan kemarin adalah sayur sop bakso daging dan telur ceplok. Hampir setiap meal, harus selalu ada telurnya! Yang dimakan lahap tentu telurnya, sementara sayurnya ‘dicuekin’ Hanna. Hari ini saya memasak cah udang dan brokoli, dan tahu kecap untuk Hanna. Alhamdulillah, Hanna makan dengan lahap.
Ya, Hanna adalah picky eater, dan susah makan. Ini adalah PR terbesar kami.
Hanna tidak suka sayuran. Sayuran yang bisa ia makan terbatas sekali yaitu: brokoli dan wortel (yang harus dipotong panjang-panjang, kalau dipotong kotak-kotak atau bulat-bulat tidak mau), jagung, dan jamur. Di setiap menu, saya selalu berusaha untuk menyajikan sayuran. Namun tidak mau disentuh kecuali yang disebutkan diatas. Bayam, kangkung, tauge, labu, buncis. Big NO. Padahal sejak kecil saya sudah memperkenalkan Hanna dengan bermacam-macam sayuran dan sering menceritakan Hanna tentang menfaat makan sayuran.
Big NO lainnya adalah bawang-bawangan. Hanna bahkan bisa muntah jika tergigit daun bawang, bawang putih, bawang merah, ataupun bawang Bombay. ☹
Terkait dengan protein, Hanna bisa makan ikan, udang, daging sapi dan daging ayam (dengan pengolahan tertentu), tahu dan tempe. Hanna kurang suka makan yang bertekstur keras dan sulit untuk dikunyah. Oleh karena itu, daging sapi biasanya yang bisa dimakan Hanna adalah daging sapi cincang, atau yang sudah diolah menjadi bakso. Sama halnya dengan ayam, harus di cincang, di suwir, atau dibuat bakso. Ayam goreng bisa dimakan tetapi jenisnya pun ayam broiler. Hanna tidak bisa makan ayam kampung karena teksturnya yang alot.
Kami berikhtiar untuk menaikkan nafsu makan Hanna dan memperbanyak variasi makanannya. Kami khawatir dengan berat badan dan tinggi badannya. Hanna kami beri suplemen Kalsium, Vitamin D, DHA dan Omega, serta Zinc. Untuk ini, Hanna tidak masalah, justru dia doyan! Dalam waktu dekat, kami akan konsultasi ke dokter anak sub spesialis gizi dan penyakit metabolik untuk memaksimalkan tumbuh kembang Hanna.
Cerita Zahid
Yang paling rajin mendampingi aktivitas beribadah Zahid adalah suami saya. Begitu mendengar adzan, Abinya akan mengajak Zahid untuk shalat berjamaah di masjid. Selain Abinya, Zahid juga sering diajak oleh Akinya shalat berjamaah di masjid. Zahid girang sekali. Namun, ketika gelombang delta dan sekarang omicron, Zahid sudah tidak pernah lagi ke masjid. Terlebih, sekarang masyarakat disini banyak yang tidak memakai masker ataupun menjaga jarak saat shalat berjamaah di masjid. Tentu ini sangatlah berisiko.
Kini Zahid shalat di rumah saja. Setiap Abinya shalat, akan mengajak Zahid. Saya dan Hanna kadang ikut sebagai makmum. Jika Zahid tidak shalat dengan abinya, Zahid saya ajak shalat bertiga dengan Hanna.
Setelah shalat Maghrib, Zahid bergantian diajari membaca Iqro dan murajaah surat-surat pendek. Ada saatnya Zahid nurut, ada juga saatnya Zahid kabur2an, enggan membaca Iqra ataupun hafalan. Pernah beberapa kali saya memaksa Zahid untuk menghafal, tapi Zahid malah berontak, marah dan nangis cukup lama. Saya belajar, anak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksa, dan anak tidak enjoy, khawatir justru malah menghindar. Harus dibuat menyenangkan. Sekarang saya lebih santai mengajak Zahid menghafal. Setelah shalat sebentar saja, atau sebelum tidur, atau saat bermain lego.
Apa yang perlu dikembangkan? Zahid masih belum dapat mengikuti shalat dengan khusyuk. Zahid masih sering mengajak Hanna bercanda, mengusilinya, dan masih banyak gerak kesana kemari ketika shalat. Saya sering tidak sabar, sehingga sering berpisah shalatnya. Saya dengan Hanna, sementara Zahid bersama abinya.
Bagaimana harapan saya? Harapan jangka panjang tentu Zahid rajin shalat 5 waktu di masjid. Untuk saat ini, harapan saya adalah Zahid bisa shalat dengan tenang (mampu menahan diri dari bercanda dan mengusili adiknya) ketika shalat. Zahid sudah hafal Al-Fatihah dan beberapa surat pendek. Harapan saya Zahid bertambah hafalannya. Dan bisa membaca bacaan shalat. Saat ini memang saya belum mengajari bacaan shalat. Baru surat-surat pendek saja.
‘Mimiiii lihat ini buku yang Zahid pinjam!’ ujar Zahid yang meminta perhatian saat saya masih zoom meeting. Siang hari itu, Zahid ikut pergi bersama abinya ke perpustakaan Sekolah Tetum Bunaya untuk mengambil langsung buku yang ia pinjam. Sementara Hanna tetap dirumah. Hanna pun menyambut kedatangan Zahid dengan sangat antusias. ‘Mimii, ini buku kuciiing’, tak ketinggalan Hanna ikut mengoceh.
Pada sore hari, saya baru berkesempatan untuk bersama anak-anak. Saya mengajak Hanna membaca buku yang ia pinjam. Buku itu berkisah tentang wol yang ingin melihat dunia. Saat mendengarkan cerita, Hanna seringkali bertanya atau berkomentar, mengapa kucingnya memakai baju, mengapa gadis cilik itu memakai syal, apakah cuacanya dingin? Dan Hanna bergitu terkesima melihat gadis cilik dan kucing itu naik balon udara untuk melihat dunia. Mimiii, Hanna juga mau naik balon udara! Sahutnya antusias. Zahid yang sedang menunggu gilirannya untuk dibacakan buku, juga ikut mendengarkan. Bedanya ia berkomentar ingin jalan-jalan naik pesawat seperti gadis cilik itu 😊
Kini tiba giliran Zahid. Ia sangat bersemangat. Tak sabar ia membuka setiap halaman dari buku tersebut. Buku yang Zahid pilih berjudul, BADAI. Saya biarkan Zahid memilih halaman mana yang ingin dibacakan terlebih dahulu. Dengan sangat antusias, Zahid bilang, ‘Mimii yang ini, yang ini duluuu’ menunjuk tentang kilat dan guntur. Buku tersebut menceritakan bagaimana kilat dan guntur terjadi. Zahid menceritakan pengalamannya melihat kilat saat di perjalanan beberapa waktu yang lalu, ‘Mimiii, waktu Mimi di kantor, Zahid pergi ke Dunkin Donut sama abi, terus Zahid liat ada petir waktu di mobil, petirnya dari atas ke bawah, serem mi!’ lalu saya jelaskan menurut buku ini kilat yang Zahid lihat itu adalah cahaya balik yang dari bawah ke atas. Lalu saya tanya Zahid, apakah dia mendengar guntur? Sambil saya jelaskan perbedaan antara kilat dan guntur. Kemudian saya tanyakan kembali pada Zahid, jadi bedanya kilat dan guntur apa? Zahid pun menjawab dengan percaya diri, kalau kilat itu cahaya, kalau guntur itu suara!
Buku tersebut juga menjelaskan bagaimana terjadinya hujan, badai salju, badai di laut dan taufan. Ada bagian yang berkisah tentang badai yang menerjang sebuah pulau. Bagaimana satu keluarga meyelamatkan diri di ruang bawah tanah saat badai terjadi, mengisahkan secara detil kerusakan yang terjadi akibat badai tersebut. Zahid ketakutan dan spontan menutup telinganya, tetapi tetap meminta saya melanjutkan membaca 😊 ‘Mimiii, akhirnya selamat ga mi anaknya? Kasiaaan…’tutur Zahid. Ya, mereka sekeluarga selamat, namun rumah mereka hancur diterjang badai. Seluruh pulau itu hancur, hanya menara yang tersisa. Zahid turut sedih mendengarnya. Keseruan membaca sore hari itu berakhir saat Adzan Maghrib. Zahid dan Hanna sebetulnya masih ingin membaca, namun saya kasih pengertian bahwa kita harus sholat dulu dan bisa dilanjutkan nanti.